The Interview

}
09 - 19 - 23
Lagi berdua sama dia yang bernama Garis dalam sastra jawa, waktu bersama mencari talenta untuk untuk sebuah kemajuan badan usaha. Disela waktu yang berjibaku dengan…

Lagi berdua sama dia yang bernama Garis dalam sastra jawa, waktu bersama mencari talenta untuk untuk sebuah kemajuan badan usaha.

Disela waktu yang berjibaku dengan banyaknya kepala dengan isi dan gagasan serta pola pikir yang beragam tapi disamakan oleh keadaan…

Perkenalan lagi, itu lagi, gitu lagi, template lagi, robot lagi.,.

Hanya ada 1 dari 300 yang keluar dari jerat baku, yang menghidupkan pikirannya dalam puncak kesadarannya. Dan itu 1 berbanding 300, betapa kejamnya dunia ini, semua gara-gara kurikulum, hahahaha… Ya, gara-gara doktrin ke-seragam-an anak-anak tak bersalah.

Lalu anak-anak yang bersalah itu menjadi dewasa, dengan doktrin-doktrin feodal yang gak pernah boleh melakukan kesalahan, memenjarakan jiwa-jiwa mereka. Selalu begitu.

Aku yang bertugas sebagai penerjemah jiwa untuk si Garis, memberikan informasi sedetailnya untuk mendidiknya, agar kelak dia bisa mengambil bekal dalam perjalanannya menempuh petualangan hidupnya.

Jiwa demi jiwa, watak demi watak, karakter, ego, kami scan satu persatu. Lalu tibalah kami pada pola yang bikin lidah ini ngebacot :

“Mbak Garis, pelamar yang barusan tadi itu bagus secara kualitas, tapi dia tadi itu tipe mencari, bukan menciptakan, kalo kamu punya team dengan sifat seperti itu, bakalan cepet ganti lagi nantinya.”

Dari situlah mbak Garis mendapatkan hikmah dari sepercik kata “Dia itu mencari, bukan menciptakan”. Disitu pula lahir rangkaian pemahaman dan gagasan singkat tentang “Menciptakan akan jauh lebih baik dari mencari”.

Ya jelas, sampai kapan aku mencari bahagia? sementara jiwa ini selalu dahaga dalam pencariannya?

Sampai kapan aku mencari cinta? sementara hati ini tak pernah tahu kapan dibalikkan?

Sampai dimana aku bertualang? sementara gubuk-pun tak juga aku dirikan?

Jadi sampai kapan mencari? jika menciptakan itu memudahkanmu. Buatku, menciptakan lebih dekat dengan syukur, meskipun tak berarti yang mencari itu tak bersyukur.

Tak semua pencarian berakhir indah kecuali atas ridho Illahi, karena pencarian juga tetap menjadi makanan bagi jiwa-jiwa yang tersesat untuk menemukan kembali dari mana kemudian semua ini diciptakan.

Sifat dari Zat sang Maha Agung adalah pencipta, The Creator, jika kita mengambil sifat mencipta itu sedikit saja, maka InshaAllah mendapatkan ridhoNya. Seperti kita mengambil sifat-sifat agung lainnya seperti Rahman & Rahim.

Jadi Carilah jika itu memenuhi dahagamu, tapi jangan kamu tak pernah menciptakan tempat teduhmu!.

Wallahualam bisowab.

Recent Posts

The Way of Life itu Sederhana!

The Way of Life itu Sederhana!

Belajar Agama: Kenapa Justru Jadi Kaku? Belakangan ini saya sering nemuin fenomena yang cukup mengganggu di sekitar saya — banyak orang yang lagi giat belajar agama, tapi kok justru makin kaku, makin mudah menghakimi, dan terasa makin jauh dari rasa bijak. Saya lihat...

Screen Tantrum!

Screen Tantrum!

Sekitar pukul 24.00 WIB, listrik di rumah padam, seperti biasa, kalau saya kehilangan frekuensi-frekuensi bunyi-bunyian di sekitar saya pasti bikin kebangun dari tidur. Bunyi-bunyian seperti suara sayup-sayup dengung compresor AC, atau suara kecil dari televisi, atau...

Mengkeluh-Kesah Ahhh Sudahlah!

Mengkeluh-Kesah Ahhh Sudahlah!

Yang perlahan saya khawatirkan adalah mereka-mereka yang selalu berpura-pura untuk mendapatkan tujuan akhir yang biasanya mengerikan, tapi saat khawatir itu saya tetap optimis kalau analisa akhirnya harusnya salah. Jika menyatakan lelah, ya sudah lelah saja, jika...

Share Your

Comments

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *